RME ( Realistic Mathematic Education )

Sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang akan terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia ingin berkomunikasi.

Dalam hidup bermasyarakat, orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain niscaya akan terisolasi dari masyarakat, begitu juga dalam dunia pendidikan, apabila peserta didik tidak selalu berkomunikasi dengan sesame peserta didik atau antara pendidik  dengan peserta didik niscaya pendidikan tidak terlaksana dengan baik.

Sebagai mkhluk pribadi maupun makhluk sosial, manusia dalam kehidupannya membutuhkan hubungn dengan manusia lain. Kecenderungan manusia untuk berhubungan melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang mengandung tindakan dan perbuatan. Banyak pakar yang menilai bahwakomunikasi adalah kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Prof Wilbur Schramn ( Cangara, 2006 : 1 ) menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkansatu sama lainnya sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.

Untuk mengkomunikasikan matematika ada beberapa aspek yang harus di perhatikan yaitu aspek merepresentasi, merekontruksa, kerja sama dalam pembelajaran matematika siswa perlu mendengarkan dengan cermat, aktif, dan menulis kembali pernyataan atau komentar yang penting yang diungkapkan oleh temen atau guru

Rendannya hasil belajar matematika karena sebagian besar siswa kurang antusias menerimanya. Siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut atau malu untuk mengemukakan pendapat tidak jarang siswa merasa kurang mampu dalam mempelajari matematika sebab matematika dianggap sulit, menakutkan, bahkan sebagian akan dari mereka ada yang membencinya sehingga matematika dianggap momok oleh mereka.  Hal ini menyebabkan siswa menjadi takut  terhadap matematika.

Rendahnya kemampuan guru menciptakan situasi yang membawa siswa tertarik pada matematika, lemahnya penguasaan materi oleh guru, kurangnya alat atau sarana prasarana dalam pembelajaran di kelas, dan pengaruh lingkungan sekitar yang berdampak negative pada siswa itu sendiri. Hal ini sesuai yang di sampaikan oleh Heman Handoyo ( Rosyanda, 2002 : 3 ) bahwa di dalam kelas guru tidak mampu menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi timbal balik dalam pelajaran matematika bahkan sering terjjadi secara tidak sadar guru menciptakan situasi yang menghambat terjadinya komunikasi

Dalam dunia pendidikan juga tidak terlepas dari peran komunikasi. Komunikasi antar siswa perlu di kembangkan, siswa perlu dilatih untuk merepresentasi suatu masalah beserta pemecahannya. Komunikasi yang terjadi berupa interaksi antar siswa atau pun dengan gurunya. Interaksi tersebut bisa diamati pada pembahasan soal, siswa dapat berkomunikasi dengan guru atau dengan teman yang lain bagaiman cara pemecahan soal  persamaan dan pertidaksamaan satu variabel yang di hadapi

Dari beberapa model pembelajaran, peneliti memilih satu model pembelajaran yang menarik dan dapat memicu komunikasi siswa yaitu adalah pendekatan RME. RME sebagai satu pendekatan baru dalam pembelajaran matematika. RME mengajak siswa untuk dapat menyukai matematika dengan memperhatikan kepada siswa cara mempelajari matematika melalui pengalaman langsung ke alam sekitar yang menunjukkan siswa menjalani sendiri proses mirip dengan penciptaan matematika melalui kegiatan matematisasi kontekstual yaitu kegiatan pola pikir siswa dikembangkan dari hal – hal yang bersifat konkret menuju hal – hal abstrak.

Pembelajaran matematika dengan model realistic pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk melancarkan proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika yang lebih baik daripada masa lalu. Realita yang dimaksud adalah hal – hal yang nyata yang dapat diamati dan dipahami siswa dengan membayangkan, sedangkan lingkungan adalah tempat siswa berada ( Soejadi, 2003 : 180 )

Dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikasi matematika salah satu usaha yang dapat kita lakukan adalah dengan memahami bagaimana siswa-siswa kita belajar. Di mana dalam proses belajar mengajar yang penting adalah penguasaan iklim dalam kelas agar tercipta suasana menyenangkan yang membuat minat belajar siswa bertambah, seperti memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh guru, aktif bertanya tentang apa yang belum jelas, aktif mengemukakan ide, aktif dalam melakukan percobaan , aktif mengerjakan soal yang diberikan oleh guru di depan kelas.

Oleh karena itu kreativitas seorang guru dalam mengajar matematika menjadi faktor penting agar matematika menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan menarik didalam kelas. Kreativitas bukanlah suatu bakat, tetapi bisa dipelajari dan harus dilatih.(Ahmad Rohani, 2004 : 6). Telah disadari bahwa mutu pendidikan sangat tergantung pada kualitas guru dan kualitas pembelajarannya. Pada pembelajaran matematika juga ditemukan keragaman masalah sebagai berikut: 1) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal – hal yang belum pahan 2) kurangnya kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran matematika sangat rendah 3) kurangnya kemampuan koneksi siswa dalam menguasai materi dan menghubungkan antara materi satu dengan materi yang lain 4) rendahnya keberanian siswa dalam menjawab pertanyaan

Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan, maka membuat para guru untuk terus berusaha menyusun dan menetapkan berbagai metode yang bervariasi. Penyajian bermacam-macam metode mengajar dan aplikasinya dalam pengajaran matematika ialah agar siswa, guru, memiliki pengetahuan yang luas tentang metode-metode dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya. Salah satu metode yang akan diterapkan yaitu pembelajaran matematika dengan pembelajaran RME ( Realistic Mathematics Education ) untuk meningkatkan komunikasi matematika.

DAFTAR PUSTAKA

 

Asikin, M. 2001. “Realistic Mathematics Education (RME): Prospek dan Alternatif Pembelajarannya”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Matematika di UNNES Semarang. Tanggal: 27 Agustus 2001.

Fauzan, A. 2001. “Pengembangan dan Implementasi  Prototipe I  & II Perangkat

Hudoyo, H. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s