CTL ( Contextual Teaching Learning )

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah

Usaha meningkatkan keaktifan belajar siswa didalam kelas sangat penting untuk dilakukan oleh para guru. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan fokus siswa agar dapat menerima pelajaran dengan baik. Dengan siswa yang aktif maka fokus mereka terhadap pelajaran pun akan meningkat sehingga mereka mudah memahami apa yang diberikan oleh guru. Selain itu, siswa yang aktif dalam pembelajaran akan membuat pelajaran lebih efektif dan menyenangkan.

Proses belajar mengajar yang efektif perlu  adanya  cara berpikir secara  terarah dan  jelas akan apa yang dipelajari. Dengan banyak permasalahan-permasalahan yang muncul, perlu adanya pembaharuan-pembaharuan di lingkungan pendidikan yang mengarahkan pembelajaran agar siswa dapat  selalu  aktif. Disinilah peranan pendidikan memberikan suatu konsep cara belajar yang efektif.

Pendidikan  dalam  era  modern  semakin  tergantung  tingkat  kualitas. Antisipasi dari para guru untuk menggunakan berbagai  sumber yang  tersedia  mengatasi  permasalahan  yang  dihadapi  siswa  untuk  mempersiapkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa.

Untuk meningkatkan  keaktifan belajar matematika siswa  tidaklah mudah, sebab  dalam  kegiatan  belajar  mengajar  di  lingkungan  sekolah  sering  di jumpai  beberapa  masalah  antara  lain  :  (1)  Hampir  tidak  ada  siswa  yang mempunyai inisiatif untuk bertanya pada guru (kurang aktif bertanya). (2) Sibuk menyalin apa yang di tulis  dan  di  ucapkan  guru.  (3)  Apabila  ditanya  guru  tidak  ada  yang  mau menjawab tetapi mereka menjawab secara bersamaan sehingga suaranya tidak jelas.  (4)  Siswa  terkadang  ribut  sendiri  waktu  guru  menerangkan  atau mengajar.

Rendahnya keaktifan siswa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 1. Faktor dari guru misalnya tidak adanya dorongan dan motivasi dari guru untuk membimbing siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan. 2. Dari siswa misalnya perasaan takut dan malu untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan, perasaan tidak PD akan jawabannya sendiri, dan lain-lain.

Akar penyebab yang paling dominan menyebabkan ketidak aktifan siswa adalah pada diri siswa sendiri. Mereka terkadang hanya malu dan takut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Ketidakberanian mereka membuat mereka enggan untuk menjawab ataupun berperan aktif dalam pembelajaran.

Dalam proses belajar mengajar guru matematika  seharusnya mengerti bagaimana memberikan stimulus sehingga siswa mencintai belajar matematika dan  lebih  memahami  materi  yang  diberikan  oleh  guru,  serta  mampu mengantisipasi  kemungkinan-kemungkinan  muncul  kelompok  siswa  yang menunjukkan  gejala  kegagalan  dengan  berusaha  mengetahui  dan  mengatasi faktor yang menghambat proses belajar siswa.

Keberhasilan  proses  belajar mengajar  pada  pembelajaran matematika dapat  diukur dari  keberhasilan  siswa  yang mengikuti  kegiatan  pembelajaran tersebut. Keberhasilan  itu  dapat dilihat  dari  tingkat  pemahaman,  penguasaan materi  serta  prestasi  belajar  siswa.  Semakin  tinggi  pemahaman  dan penguasaan  materi  serta  prestasi  belajar  maka  semakin  tinggi  pula  tingkat  keberhasilan  pembelajaran. Namun  dalam  kenyataannya  dapat dilihat bahwa prestasi  belajar  matematika  yang  dicapai  siswa  masih  rendah.  Perkaitan dengan  masalah  tersebut,  pada  pembelajaran  matematika  juga  ditemukan keragaman  masalah  sebagai  berikut:  1)  keaktifan  siswa  dalam  mengikuti pembelajaran  masih  belum  nampak,  2)  para  siswa  jarang  mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar  siswa bertanya  jika ada hal-hal  yang belum  atau kurang paham, 3) keaktifan siswa mengerjakan  soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas.

Dalam  pengajaran  matematika  diharapkan  siswa  benar-benar  aktif, sehingga akan berdampak pada ingatan siswa tentang apa yang dipelajari akan lebih  lama  bertahan.  Suatu  konsep  akan  mudah  dipahami  dan  diingat  oleh siswa  bila  konsep  tersebut  disajikan  melalui  prosedur  dan  langkah-langkah yang  tepat,  jelas  dan  menarik  keaktifan  siswa  mempengaruhi  keberhasilan dalam belajar.

Pembelajaran  Matematika  perlu  diperbaiki  guna  meningkatkan kemampuan dan prestasi siswa. Usaha ini dimulai dengan pembenahan proses pembelajaran  yang  dilakukan  guru  yaitu  dengan  menawarkan  suatu pendekatan  yang dapat meningkatkan  kemampuan  siswa. Salah  satu  caranya yaitu dengan pendekatan metode CTL (Contextual Teaching Learning).

Contektual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendidikan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.

Pembelajaran yang demokratis akan menciptakan iklim yang kondusif bagi siswa untuk berpartisipasi aktif, ikut serta secara aktif dan turut serta dan berbuat  ke  arah  tujuan  yang  sama.  Penerapan metode CTL  dalam Matematika tidak bisa dipisahkan dari penerapan matematika dalam berbagai situasi nyata. Dengan  demikian  metode CTL  menjadi  sangat  penting  dalam meningkatkan kemampuan untuk menerapkan Matematika.

Oleh  karena  itu  untuk  meningkatkan keaktifan  siswa  dalam  pembelajaran  matematika  melalui  pendekatan metode CTL  dapat  menggunakan  adanya  kerja  sama  antara  guru matematika  dan  peneliti  yaitu  melalui  Penelitian  Tindakan  Kelas.  Proses  Penelitian  Tindakan Kelas  ini  memberikan  kesempatan  kepada  peneliti  dan guru  matematika  untuk  mengidentifikasi  masalah-masalah  pembelajaran  di sekolah,  sehingga  dapat  dikaji,  ditingkatkan,  dan  dituntaskan.  Dengan demikian proses pembelajaran matematika  yang menerapkan metode CTL dapat meningkatkan keaktifan siswa.

2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Apakah  ada  peningkatan  keaktifan  siswa  selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode CTL (Contextual Teaching Learning)?

3.      Tujuan Penelitian

  1. Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika.

2.   Tujuan khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika melalui metode CTL (Contextual Teaching Learning).

4.      Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

Secara  umum  penelitian  secara  teoritis  diharapkan  mampu memberikan  sumbangan  terhadap  pembelajaran  matematika,  utamanya untuk upaya meningkatkan kemampuan keaktifan siswa melalui metode CTL (Contextual Teaching Learning).

2.   Manfaat Praktis

1)      Memberi  sumbangan  bagi  guru  matematika  dalam  upaya meningkatkan  kualitas pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan keaktifan  siswa  di  kelas  melalui penerapan metode CTL.

2)      Memberi  masukan  bagi  siswa  bahwa  dengan  menggunakan  metode pembelajaran CTL  dapat  meningkatkan keaktifan belajar siswa.

3)      Bagi sekolah, penelitian  ini diharapkan dapat memberi  informasi dan masukan  dalam  penggunaan  metode  pembelajaran  CTL yang  mampu  meningkatkan  kualitas  pembelajaran  matematika  di sekolah.

4)      Bagi  peneliti,  penelitian  ini  untuk  mengetahui  keefektifan  metode pembelajaran  CTL sehingga  mampu meningkatkan keaktifan  belajar siswa. Selain itu sebagai wahana uji kemampuan terhadap bekal teori yang diterima di bangku kuliah.

5)      Bagi  peneliti  selanjutnya,  penelitian  ini  dapat  dimanfaatkan  sebagai perbandingan atau sebagai referensi untuk penelitian yang relevan.

5.      Definisi Istilah

  1. CTL (Contextual Teaching Learning)

Kata kontekstual berasal dari kata Context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan konteks”. Sehingga Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti yang berkenenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna dan kepentingan.

Contektual Teaching And Learning (CTL) adalah suatu pendidikan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.

2.   Keaktifan siswa

Keaktifan berasal dari kata aktif yang artinya giat, sibuk, mendapat
awalan ke- dan akhiran –an menjadi keaktifan yang artinya kegiatan,
kesibukan. Dan keaktifan yang dimaksud di sini adalah segala aktivitas atau
kegiatan yang dilakukan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di
sekolah. Menurut Hermawan (2007 : 83), keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam kegiatan pembelajaran.

Jadi keaktifan adalah kemampuan siswa untuk bekerjasama, berdiskusi, menyampaikan materi kepada teman sebaya, bertanya, menjawab pertanyaan, menanggapi, mengerjakan soal, dan yang paling penting adalah mengkomunikasikan jawaban kepada temannya pada waktu pembelajaran matematika.


B.     LANDASAN TEORI
1.      Kajian Teori

  1. Keaktifan Siswa

1)      Hakekat matematika

Menurut Romberg, matematika memiliki tiga sasaran utama. Pertama, para sosiolog, psikolog, pelaksana administrasi sekolah dan penyusun kurikulum memandang bahwa matematika merupakan ilmu statis dengan disipilin yang ketat. Kedua, selama kurun waktu dua dekade terakhir ini, matematika dipandang sebagai suatu usaha atau kajian ulang terhadap matematika itu sendiri. Kajian tersebut berkaitan dengan apa matematika itu? bagaimana cara kerja para matematikawan? dan bagaimana mempopulerkan matematika? Ketiga, matematika dipandang sebagai suatu bahasa, struktur logika, batang tubuh dari bilangan dan ruang, rangkaian metode untuk menarik kesimpulan, esensi ilmu terhadap dunia fisik, dan sebagai aktivitas intelektual (Jackson, 1992: 750).

2)      Konsep belajar

Belajar, pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Menurut Sudjana, 1989 belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu. Sedangkan menurut Witherington, 1952 menyebutkan bahwa “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan atau pemahaman”. Jadi belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang berkesinambungan antara berbagai unsur dan berlangsung seumur hidup yang didorong oleh berbagai aspek seperti motivasi, emosional, sikap dan yang lainnya dan pada akhirnya menghasilkan sebuah tingkah laku yang diharapkan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan kemungkinan terjadinya kegiatan belajar.
3)      Hakekat belajar
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut James O. Whittaker (1999), Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Sedangkan menurut Winkel, belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap.
4)      Keaktifan siswa
Proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam kegiatan pembelajaran ini sangat dituntut keaktifan peserta didik, dimana peserta didik adalah subjek yang banyak melakukan kegiatan, sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.
Keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan manakala : (1) pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada peserta didik, (2) guru berperan sebagai pembimbing supaya terjadi pengalaman dalam belajar (3) tujuan kegiatan pembelajaran tercapai kemampuan minimal peserta didik (kompetensi dasar), dan (4) melakukan pengukuran secara kontinu dalam berbagai aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

2.   Pemanfaatan metode CTL dalam pembelajaran matematika

1)      Hakekat pembelajaran
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas.

Menurut Gagne dan Briggs (1979: 3), pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning).
2)      Hakekat CTL
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Imam Mujahid, 2005:3). Metode CTL memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Kelebihannya antara lain siswa dapat lebih memahami apa yang dipelajari karena pembelajaran dikaitkan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Sedangkan kekurangannya, untuk menjalankan metode ini dibutuhkan kejelian serta membutuhkan banyak waktu dalam pelaksanaannya.

3.   Penerapan CTL dalam pembelajaran matematika

  • Pembelajaran berhitung dengan CTL

Menurut Poerwodarminto (1996: 311) berhitung berasal dari kata hitung yang berarti perihal membimbing yang mencakup menjumlahkan, mengurangkan, mengalikan,dan membagi. Pembelajaran berhitung sedapat mungkin menggunakan benda-benda riil untuk membantu memudahkan siswa dalam merumuskan model dan simbol matematikanya. Penerapan model pembelajaran dipengaruhi oleh materi yang diajarkan oleh sekolah. Seperti halnya CTL, materi yang diajarkan harus dapat dikaitkan dengan dunia nyata atau benda-benda konkret sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang diperolehnya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

1)      Definisi bilangan bulat

Awal pembelajaran siswa ditampilkan fenomena sehari-hari utang piutang, untung rugi, dan lain-lain yang berlawanan, dasar masalah tersebut digunakan untuk belajar definisi bilangan bulat. Guru mengumpamakan angka bertanda (-) sebagai hutang. Dalam model matematikanya angka bertanda (-) berarti kecil dan dibaca negatif. Sedangkan angka yang bertanda (+) bernilai besar dan dibaca positif.  Contoh: 3 dibaca tiga, -5 dibaca negatif lima.

2)      Menjumlahkan bilangan bulat

a)      Menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif

Dipilih 2 siswa A dan B sebagai model peraga. Siswa A harus mengumpulkan 5 buku milik siswa yang lain. Hal ini juga berlaku untuk siswa B untuk mengumpulkan 4 buku. Guru dan siswa membuat model matematikanya.

5 buku + 4 buku = 9 buku.

b)      Menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif

Sebuah mobil mainan diberikan kepada siswa B dan dijalankan kearah barat sejauh 8 petak ubin sampai ditempat A. guru menyuruh siswa untuk menjalankan kembali mobil tersebut berlawanan arah ( ketimur ) sejauh 5 petak ubin. Guru menerangkan bahwa arah berlawanan berarti nilai angka tersebut berlawanan dengan nilai angka yang lain: 8 petak – 5 petak = 3 petak.

c)      Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif

Siswa diberi pengantar belajar mengenai fenomena utang piutang. Siswa A meminjam uang 500 kepada siswa B. kemudian karena masih kurang maka meminjam lagi 600. Guru mengingat kembali bahwa konsep hutang nilainya (-). Kemudian guru mengembangkan konsep permasalahan tersebut pada sembarang bilangan bulat. Misalnya: -4 + (-3) = -7

2.      Kajian Pustaka

Penelitian ini juga menggunakan  kajian penelitian terdahulu yang merupakan kajian empiris sebagai  landasan untuk berpikir  dan sekaligus untuk mengetahui dan mempelajari berbagai metode analisis yang digunakan  yang kemungkinan dapat diterapkan oleh  peneliti  dalam penelitian  ini.

Menurut Ika Sriharini (2004), berdasarkan data yang dikumpulkan dan hasil analisis yang didapat, ia menyimpulkan bahwa:

  1. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada pokok bahasan statistika antara kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan kelas yang diberi pembelajaran konvensional.
  2. Prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual lebih baik daripada dengan menggunakan pembelajaran konvensional.

Menurut Ulfah Zakiyah (2005), berdasarkan pembahasan hasil analisis data yang ia peroleh dapar disimpulkan bahwa:

  1. Terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang diajar dengan pendekatan kontekstual dengan metode ceramah.
  2. Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual lebih baik prestasi belajarnya yang ditunjukkan oleh mean siswa yang diajar dengan pendekatan kontekstual lebih tinggi dibandingkan dengan mean siswa yang diajar dengan metode ceramah.

Menurut Erny Ratna Savitri (2004),berdasarkan dari hasil analisis ia menyimpulkan bahwa:

  1. Prestasi belajar matematika siswa yang dikenakan model pembelajaran kontekstual lebih baik daripada siswa yang dikenakan model pembelajaran konvensional.
  2. Dari nilai rata-rata prestasi belajar menunjukkan bahwa siswa yang dikenakan model pembelajaran kontekstual memiliki rata-rata prestasi belajar yang lebih baik dibanding dengan siswa yang dikenakan model pembelajaran konvensional.

Menurut Harcharan Pardhan dan Razia Fakir Mohammad (2005), menyimpulkan bahwa: Guru harus memberdayakan peserta didik untuk lebih sukses dalam pelaksanaan pengajaran yang inovatif bukan dalam hal kembali ke pengajaran konvensional. Permasalahan ini telah tersebar diberbagai negara seperti Inggris dan Amerika Serikat. Saat ini, kita merasakan matematika yang ditawarkan program pendidikan di suatu lembaga pendidikan, matematika dianggap sebagai bagian dari seluruh wacana/ program untuk memberikan pembelajaran baru tentang teori, filsafat dan pedagogik.

Dengan demikian, waktu yang digunkan tidak cukup untuk menutup semua konten yang diperlukan. Kami merasa ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan guru untuk menyediakan jalur alternatif untuk meningkatkan guru matematika. Alternatif yang mungkin dapat digunakan adalah pengenalan program spesialisasi subjek yang memungkinkan para guru untuk belajar lebih mendalam. Jalur lain yaitu dengan membentuk kemitraan Sekolah yang akhirnya dapat membuat guru dapat berkomunikasi dengan peserta didik dengan baik (Pardhan dan Rowell, 2005).

Menurut Wayne Melville dan Bevis Yaxley (2009), menyimpulkan bahwa: Penekanan pada lembaga pendidikan adalah penting untuk dua alasan. Yang pertama adalah mapan posisi yang lembaga pendidikan miliki adalah pada kinerja dan belajar guru (Horn, 2005; Ritchie & Rigano, 2002; Siskin, 1994; Talbert, 2002; Visscher & Witziers, 2004). Kedua, sebagai suatu organisasi, dlembaga pendidikan harus menyediakan menyediakan “Struktur pengaturan dan instrumen” untuk mengembangkan profesionalitas dan kinerja guru (Visscher & Witziers, 2004: 786).

3.      Kerangka Berpikir

Pada kondisi awal siswa mempunyai keaktifan yang rendah. Dari hasil observasi diperoleh hasil: 1) siswa tidak ada yang bertanya ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya, 2) kurangnya keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan, 3) kurangnya keberanian siswa untuk mengerjakan soal didepan kelas, dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan guru kurang optimal dalam memanfaatkan model pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa.

Pendekatan kontekstual merupakan strategi yang dapat mendidik siswa berpikir secara sistematis, mampu mencari jalan keluar dari suatu masalah yang dihadapi, dan dapat belajar menganalisis suatu masalah. Pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan materi dengan dunia nyata kehidupan siswa, sehingga akan terasa manfaat dari materi yang disajikan, motivasi belajar muncul, dan dunia pikiran siswa menjadi konkret.

Kondisi akhir yang diharapkan melalui pendekatan kontekstual dalam proses belajar mengajar adalah agar dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa. Adapun skema kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

4.      Hipotesis Tindakan

Dengan memperhatikan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, kaitannya dengan permasalahan yang ada maka hipotesis  tindakan yang diajukan adalah penerapan metode pembelajaran dengan strategi CTL ( Contextual Teaching Learning) akan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

C.    METODE PENELITIAN
1.      Jenis dan Desain Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dimana penelitian tindakan dimaksudkan untuk memecahkan masaah-masalah sosial dan aplikasi langsung pada situasi dunia kerja. Penelitian ini diharapkan meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep.

PTK merupakan kegiatan pemecahan masalah yang bercirikan siklik dan reflektif yang dimulai dari: a) perencanaan (planning), b) pelaksanaan tindakan (action), c) mengumpulkan data (observing), d) menganalisis data/ informasi untuk memutuskan sejauh mana kelebihan dan kekurangan tindakan tersebut (reflecting). PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasaan penelitian sering menjadi tolak ukur siklus tersebut.

2.      Setting Penelitian

  1. Tempat penelitian

Berdasarkan observasi di SMP Negeri 2 Jatipurno, jumlah guru matematika di SMP Negeri 2 Jatipurno ada 3 orang. Rata-rata siswanya berasal dari seluruh penjuru kecamatan Jatipurno karena SMP Negeri 2 Jatipurno terletak di kecamatan Jatipurno.

2.   Waktu penelitian

Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011 dari bulan April 2011 sampai bulan Juni 2011. Adapun rincian waktu penelitian adalah sebagai berikut:

1)      Tahap persiapan: Minggu ke-1 bulan April 2011 sampai minggu ke-4 bulan April 2011

2)      Tahap pelaksanaan: Minggu ke-1 bulan Mei 2011 sampai minggu ke-1 bulan Juni 2011

3)      Tahap laporan: Minggu ke-2 bulan Juni 2011 sampai minggu ke-4 bulan Juni 2011

3.      Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini guru bertindak sebagai subjek yang memberikan tindakan kelas. Siswa kelas VII C sebagai subjek penelitian yang menerima tindakan. Selain bertindak sebagai observer, peneliti juga berfungsi mendiagnosis, membuat konsep dan merancang tindakan bersama guru dan kepala sekolah SMP Negeri 2 Jatipurno siswa kelas VII C tahun ajaran 2010/2011 sebagai subjek penelitian yang menerima tindakan.

4.      Data dan Sumber Data

Arikunto (2003: 151), sumber data adalah alat bantu fasilitator yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data agar lebih mudah dan hasilnya lebih baik. Didalam penelitian ini, sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Lembar observasi

Lembar observasi ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan guru dalam menyampaikan materi mulai dari awal pembelajaran, selama proses pembelajaran dan pada akhir proses pembelajaran. Lembar observasi ini sangat diperlukan karena peningkatan pola mengajar guru dalam setiap tindakan dapat dilihat dalam lembar observasi. Hal-hal yang perlu diobservasi dibagi menjadi 3 bagian yaitu sebagai berikut:

1)      Observasi tindak mengajar yang sesuai dengan rencana pembelajaran

2)      Observasi tindak mengajar yang berkaitan dengan reaksi dan inisiatif siswa dalam pembelajaran matematika

3)      Keterangan tambahan yang berkaitan dengan tindak mengajar maupun tindak belajar yang belum terekam.

2.   Catatan lapangan

Menurut Bogdan dan Biklen, catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami dan dipikirkan dalam hal pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif (Moleong, 2001: 153).

Pada penelitian ini catatan yang digunakan adalah model catatan pengamatan yang dilakukan peneliti dengan guru matematika. Menurut Moleong (2001: 155), catatan pengamatan adalah pernyataan tentang semua peristiwa yang dialami yaitu yang didengar dan dilihat serta tidak boleh berisi penaksiran, hanya catatan sebagaimana adanya.

3.   Pedoman wawancara dialog awal

Pedoman ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengajaran yang dilakukan selama ini, serta sejauh mana kemajuan siswa dalam keaktifan dalan pembelajaran matematika. Hal ini bertujuan untuk menyusun rencana pembelajaran dan tindak mengajar lebih lanjut.

4.   Soal tes

Soal tes dalam penelitian dikerjakan oleh siswa agar peneliti mengetahui keaktifan siswa setelah dilakukan tindakan pada setiap putarannya dibandingkan sum dilakukan tindakan. Soal tes digunakan untuk mengukur kemampuan atau hasil belajawa sebelum dan setelah dilakukan tindakan.

5.      Teknik Pengumpulan Data

Penelitian in menggunakan teknik pengumpulan data yang dibedakan menjadi dua. Metode yang digunakan yaiu metode pokok dan metode bantu.

  1. Metode Pokok

1)      Metode Observasi

Menurut Supardi dalam Arikunto ( 2008: 127) observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Observasi sebagai salah satu teknik untuk mengamati secara langsung dengan teliti, cermat dan hati-hati terhadap fenomena dalam pembelajaran dikelas.

2)      Metode Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu maupun kelompok. Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang pemahaman konsep pembelajaran matematika.

2.   Metode Bantu

1)      Catatan Lapangan

Catatan lapangan yang digunakan oleh peneliti adalah pengamatan yang berupa pertanyaan tentang semua penelitian yang dialami, dilihat, dan didengar. Setiap catatan pengamatan mewakili peristiwa yang penting dalam setiap tindakan yang akan dimaksudkan dalam proposisi suatu konteks.

2)      Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah suatu metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, traskip, buku, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2002: 206). Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah dan nama siswa serta foto rekaman proses tindakan penelitian.

6.      Teknik Pemeriksaan Validitas Data

Untuk menjamin kemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian, maka dipilih dan ditentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperolehnya. Dalam penelitian ini akan digunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2006: 330). Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi penyidik yaitu dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk mengecek kembali derajat kepercayaan data.

7.      Teknik Analisis Data

Pada penelitian tindakan kelas ini, analisis data yang dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan analisis interaktif. Data yang dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan analisis interktif yang terdiri dari reduksi (pemilihan/ penyederhanaan) data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dilakukan dalam bentuk interaktif dengan pengumpulan data sebagai suatu proses siklus.

Menurut M. B. Miles (1992: 20) proses analisis interaktif dapat digambarkan dalam skema berikut:

8.      Indikator Kinerja

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

9.      Prosedur Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar  matematika siswa dan perolehannya akan menfaat yang baik. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini yaitu:

  1. Perencanaan tindakan
  2. Pelaksanaan tindakan
  3. Observasi dan evaluasi
  4. Analisis dan refleksi

Langkah-langkah penelitian untuk setiap siklus perlakuan pembelajaran matematika diilustrasikan sebagai berikut:

  1. Dialog awal

Dialog awal dilakukan peneliti, guru matematika dan kepala sekolah untuk melakukan pengenalan, penyatuan ide dan diskusi untuk membahas masalah yang muncul. Serta mencari cara untuk meningkatkan keaktifan melalui pendekatan kontekstual. Peserta dialog membicarakan model dan alternatif pembelajaran yang akan dipraktekkan dan dikembangkan sehingga diperoleh kesepatan unutk menangani masalah peningkatan keaktifan melalui pendekatan kontekstual.

2.   Menyusun rencana tindakan

Rencana tindakan disusun mengacu pada observasi awal yang telah dirumuskan sebagai fokus permasalahn dilihat dari faktor penyebabnya. Dalam penyusunan rencana tindakan melibatkan guru matematika sebagai mitra dalam penelitian, yaitu denagan memadukan hasil pengamatan serta memasukkan tentang persepsi guru terhadap siswa selama proses belajar berlangsung.

3.   Pelaksanaan tindakan

Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, namun tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana suatu tindakan yang diputuskan mengandung resiko karena terjadi dalam situasi nyata, oleh karena itu rencana tindakan harus bersifat tentatif dan sementara, fleksibel atau siap diubah sesuai kondisi yang ada sebagai usahah kearah perbaikan. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan selama 2 minggu terbagi dalam 3 putaran.

4.   Observasi tindakan

Observasi berperan dalam upaya perbaikan praktek profesional melalui pemahaman dan perencanaan yang lebih baik dan kritis. Kegiatan ini dilakukan oleh rekan sesama peneliti dengan dibekali lembar pengamatan menurut aspek-aspek identifikasi, waktu pelaksanaan, pendekatan, metode dan tindakan yang dilakukan peneliti, tingkah laku serta kelemahan dan kelebihan yang ditemukan.

5.   Analisis dan Refleksi

Dalam pengambilan keputusan secara efektif perlu dilakukan refleksi yaitu merenungkan apa yang terjadi dan tidak terjadi. Mengapa segala sesuatu terjadi dan tidak terjadi pada observasi implementasi tindakan serta mencari solusi atau jalan alternatif lainnya yang perlu ditempuh pada perencanaan tindakan selanjutnya. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langsung lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan penelitian.

6.   Evaluasi

Evaluasi sebagai proses pengumpulan data, mengolah data dan menyajikan informasi sehingga bermanfaata untuk pengambilan keputusan tindakan. Evaluasi diarahkan pada penemuan bukti-bukti untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, J Lexy. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya

Wibowo, D Hendri. 2010. Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar Matematika pada Garis Singgung Lingkaran Melalui Strategi Visualisasi bagi Kelas VII MTs Negeri Pulutan Tahun Pelajaran 2010/ 2011. Skripsi. UMS

Uno, Hamzah. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bina Aksara

Ratnawati, Senny. 2011. Peningkatan Keaktifan dan Pemahaman Konsep Garis dan Sudut Melalui Pendekatan Kontekstual dengan Inquiry Terbimbing. Skripsi. UMS

Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M. Pd. 2010. Praktek Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosda Karya

Zakiyah, Ulfah. 2005. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Pokok Bahasan Pecahan Siswa SLTP Negeri 1 Ngemplak Boyolali. Skripsi. UMS

Sriharini, Ika. 2004. Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Kontekstual pada Pokok Bahasan Statistika SMP Kelas II Semester 2 (MTs Negeri Jatinom). Skripsi. UMS

Savitri, R Erny. 2004. Model Pembelajaran Kontekstual pada Pokok Bahasan Geometri. Skripsi. UMS

Pardhan, Harcharan. 2005. “Teaching Science And Mathematics For Conceptual Understanding? A Rising Issue”. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education. Volume 1. Nomor 1. Halaman 20

Melville, Wayne. 2009. “Contextual Opportunities for Teacher Professional Learning:  The Experience of One Science Department”. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education. Volume 5. Nomor 4. Halaman 357-368

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s